![]() |
| Kalung bambu etnik DANIEL BAMBOO DESIGN |
Entri Populer
-
Indonesia dikenal akan kekayaan alamnya, berbagai jenis tumbuhan hidup dan berkembang di berbagai wilayah negeri ini. Salah satu y...
-
Sejak lounchingnya pada bulan februari 2010, sanggar GEDEK aktif kembali dari mati surinya beberapa saat sebelumnya. Gebrakan awal dib...
-
BAB I PENDAHULUAN a. Latar belakang Hutan Indonesia dikenal memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun dalam beberapa deca...
-
Asbak dengan motif batik DANIEL BAMBOO DESIGN Asbak dengan pola etnik DANIEL BAMBOO DESIGN
-
Sanggar Gedek dalam dedikasinya turut memperingati HUT Kota Depok ke XII dan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2011. Pada awal Mei 2011 m...
-
Bambu memang memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan, dan manfaat tersebut berkembang hingga saat ini. Diantara barang-barang kerajinan...
Minggu, 24 Oktober 2010
Minggu, 10 Oktober 2010
WADAH YANG KINI MEMBUTUHKAN WADAH
Sanggar GEDEK sejak lounchingnya bulan Februari 2010 banyak mengalami berbagai tantangan. Baik tantangan dari dalam sendiri maupun yang datangnya dari luar sehingga kegiatan yang sudah dan sedang berjalan pun terlihat bagai lalu lintas kota Jakarta, macet merayap padat perlahan, menanti entah berapa lama dan seberapa panjang antrian macet tersebut. Sementara pak polisi yang bertanggung jawab akan kelancaran lalu lintas itu entah dimana dan sedang apa, sehingga para pengendara mulai stres di belakang stir, terlebih penumpang hanya bisa menanti dan pasrah walau hati ingin cepat sampai pada tujuannya.
Sebagai wadah kreatifitas dari anak-anak hingga dewasa dalam berbagai kegiatan kesenian kini menanti berbagai uluran tangan yang dapat menarik dan mengangkatnya untuk dapat tegak berdiri bahkan menuntunnya berjalan bagai bayi yang di tetah oleh sang bunda tersayang. Tapi disini bukanlah bayi yang sedang dalam pertumbuhan, merupakan kelompok orang-orang yang memiliki potensi dalam menjalankan kehidupan berkesenian diantara masyarakat di lingkungannya. Sebagai motor penggerak sekaligus menyalurkan potensi-potensi yang ada melalui sebuah wadah yaitu sanggar.
Dalam memasuki semester kedua ini sanggar gedek terlihat semakin terseok-seok dalam perjalanannya bak motor yang kempes salah satu bannya, sehingga lambat tuk mencapai tujuan bahkan mungkin berhenti sebelum tiba pada tujuan karena hancurnya ban hingga membuat pelk ikut menahan beban berat sang penumpang. Kegiatan demi kegiatan mulai surut aktivitasnya sementara umum mulai mencium eksistensi sanggar gedek tersebut. Kerjasama dengan pihak sekolah mulai membawa hasil, sedangkan produksi kerajinan bambu yang telah dirintis sejak bulan Juni mulai menarik perhatian penggemar barang kerajinan.
Oktober berusaha tuk bangkit dan aktif kembali usai idul fitri, perencanaan dan target pun disusun dengan baik walau perang dingin masih berjalan dalam kelompok anggota sanggar itu sendiri yang aku pun tak mengerti kenapa musti terjadi dalam sebuah organisasi se populer Gedek di kota Depok, isyu berkembang secara intern namun tetap menghambat kegiatan-kegiatan yang ada dan sulit untuk berkembang secara wajar layaknya sebuah wadah yang berkecimpung dalam kegiatan seni.
Lahan seluas kurang lebih 3000 meter persegi tersebut amat ideal sebagai wadah dalam kreatifitas seni, dan selayaknya aktivitas pun akan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Sebagai pusat aktivitas bagi wilayah dimana wadah itu berada, sumber kehidupan bidang seni bagi masyarakat sekitar tentunya perlu untuk diciptakan. Suasana sekitar memang mendukung, kolam-kolam ikan dengan tanaman bambu yang mengelilingi lahan tersebut membuat kesejukan dan keasrian tersendiri. Ketenangan jauh dari hiruk pikuknya kota menumbuhkan suasana kreatifitas bagi para penghuni dan pekerja seni di sanggar tersebut.
Bagai badai menerpa ketika lahan idola tersebut bergeser dan berpindah tangan pengelola yang baru, pengurus dan anggota pun sibuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi kelanjutan dan eksistensi sanggar dikemudian hari. Akankah sampai disini perjuangan Gedek? Wadah yang kini mencari wadah sebagai pengganti tempat yang kini belum jelas untuk apa selanjutnya, dan oleh siapa lahan itu dikelola, yang jelas hanya dalam waktu satu minggu Gedek harus hengkang dari lokasi dari lahan tersebut. Yaaah..... jelaslah hal itu membuat bingung dan pusing bagi para pengurusnya, dalam keadaan yang seperti ini Gedek disuruh mencari tempat yang baru tapi entah dimana dan akan kemana sanggar tersebut dibawa, terlebih siapa yang akan membawa wadah tersebut agar tetap dalam eksistensinya.
.Dulu mengalami mati suri dan bangkit melalui lounchingnya kini sedang duka dalam langkahnya mencari tempat tuk berteduh, sementara hujan masih lebat dan badai masih menerpa dengan puting beliungnya yang keras berputar kesana kemari tanpa arah yang jelas dan tak menentu dalam sepak terjangnya. Semua tak bisa dihindari dalam perjalanan kelompok kesenian Depok Jaya itu, sebuah ujian dalam kebangkitannya dan pelajaran bagi para pengurus dan anggotanya. Bahwasannya berkesenian melalui sebuah sanggar tidaklah mudah dan semudah membalikkan telapak tangan, perlu banyak kesadaran dalam pribadi masing-masing, pengertian antara pengurus dan anggota masih perlu dibentuk secara solid dan terpercaya. Masing-masing perlu berfikir ke depan dalam berkreatifitas seninya, mencari kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan bukan hanya berfikir untuk diri sendiri. Kepentingan bersama lebih diutamakan dalam membangun sebuah sanggar, maka diperlukan keiklasan yang tinggi moriil maupun materiil.
Pada hari Minggu 10 Oktober 2010, banyak dimanfaatkan orang dan merupakan kepercayaan banyak orang bahwa tanggal, bulan dan tahun tersebut membawa keberuntungan bahkan ada yang menganggap sejarah untuk melangkah yang lebih baik dalam kehidupan selanjutnya karena berkah tlah ada dalam genggamannya. Tapi bagi sanggar Gedek ternyata lain, angka 10, 10, 10 merupakan angka sial, yaaah hari dan tanggal tersebut tepat terdengarnya kata-kata yang membuat pusing kepala, bahwa sanggar harus hengkang dari tempat pemancingan Toyosae tersebut, tempat yang selama ini menjadi pusat kegiatan dan berkumpulnya pengurus dan anggota sanggar Gedek selain sebagai salah satu wadah bertemunya para seniman dari berbagai sanggar di lingkup Depok. Kini, akupun tak tahu harus kemana kegiatan yang sudah berjalan tersebut dipindahkan, akankah ada toleransi dari pengelola baru untuk memberikan sedikit waktu atau lahan demi kelanjutan Gedek yang merupakan wadah potensial di lingkup Pancoran Mas dalam mendukung bidang kesenian untuk wilayah kota Depok.
Menginjak semester kedua ini sanggar Gedek memang mengalami berbagai cobaan dalam kebangkitannya, dari kegiatan hingga keberadaannya di lokasi ek pemancingan tersebut, akankah wadah tersebut akan mengalami mati suri kembali?. pikirku ..... akan lebih baik bila lahir kembali dalam kebangkitan bersama dalam sebuah wadah yang baru......... Lumbung ?
(daniel)
Bagai badai menerpa ketika lahan idola tersebut bergeser dan berpindah tangan pengelola yang baru, pengurus dan anggota pun sibuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi kelanjutan dan eksistensi sanggar dikemudian hari. Akankah sampai disini perjuangan Gedek? Wadah yang kini mencari wadah sebagai pengganti tempat yang kini belum jelas untuk apa selanjutnya, dan oleh siapa lahan itu dikelola, yang jelas hanya dalam waktu satu minggu Gedek harus hengkang dari lokasi dari lahan tersebut. Yaaah..... jelaslah hal itu membuat bingung dan pusing bagi para pengurusnya, dalam keadaan yang seperti ini Gedek disuruh mencari tempat yang baru tapi entah dimana dan akan kemana sanggar tersebut dibawa, terlebih siapa yang akan membawa wadah tersebut agar tetap dalam eksistensinya.
.Dulu mengalami mati suri dan bangkit melalui lounchingnya kini sedang duka dalam langkahnya mencari tempat tuk berteduh, sementara hujan masih lebat dan badai masih menerpa dengan puting beliungnya yang keras berputar kesana kemari tanpa arah yang jelas dan tak menentu dalam sepak terjangnya. Semua tak bisa dihindari dalam perjalanan kelompok kesenian Depok Jaya itu, sebuah ujian dalam kebangkitannya dan pelajaran bagi para pengurus dan anggotanya. Bahwasannya berkesenian melalui sebuah sanggar tidaklah mudah dan semudah membalikkan telapak tangan, perlu banyak kesadaran dalam pribadi masing-masing, pengertian antara pengurus dan anggota masih perlu dibentuk secara solid dan terpercaya. Masing-masing perlu berfikir ke depan dalam berkreatifitas seninya, mencari kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan bukan hanya berfikir untuk diri sendiri. Kepentingan bersama lebih diutamakan dalam membangun sebuah sanggar, maka diperlukan keiklasan yang tinggi moriil maupun materiil.
Pada hari Minggu 10 Oktober 2010, banyak dimanfaatkan orang dan merupakan kepercayaan banyak orang bahwa tanggal, bulan dan tahun tersebut membawa keberuntungan bahkan ada yang menganggap sejarah untuk melangkah yang lebih baik dalam kehidupan selanjutnya karena berkah tlah ada dalam genggamannya. Tapi bagi sanggar Gedek ternyata lain, angka 10, 10, 10 merupakan angka sial, yaaah hari dan tanggal tersebut tepat terdengarnya kata-kata yang membuat pusing kepala, bahwa sanggar harus hengkang dari tempat pemancingan Toyosae tersebut, tempat yang selama ini menjadi pusat kegiatan dan berkumpulnya pengurus dan anggota sanggar Gedek selain sebagai salah satu wadah bertemunya para seniman dari berbagai sanggar di lingkup Depok. Kini, akupun tak tahu harus kemana kegiatan yang sudah berjalan tersebut dipindahkan, akankah ada toleransi dari pengelola baru untuk memberikan sedikit waktu atau lahan demi kelanjutan Gedek yang merupakan wadah potensial di lingkup Pancoran Mas dalam mendukung bidang kesenian untuk wilayah kota Depok.
Menginjak semester kedua ini sanggar Gedek memang mengalami berbagai cobaan dalam kebangkitannya, dari kegiatan hingga keberadaannya di lokasi ek pemancingan tersebut, akankah wadah tersebut akan mengalami mati suri kembali?. pikirku ..... akan lebih baik bila lahir kembali dalam kebangkitan bersama dalam sebuah wadah yang baru......... Lumbung ?
(daniel)
Langganan:
Komentar (Atom)









































